2/10/2016

Jenis Undangan Berdasarkan Usia

Saya sedang sendirian ketika terima sms dari temen yang mengajak untuk reunian. Kali ini reuni untuk memperingati teman2 seangkatan yang sudah meninggal. Karena kelompoknya tidak besar dan diadakannya di rumah teman yang dekat dengan rumah saya, saya datang

Jenis Undangan Berdasarkan Usia

Sesampai di sana, kita bicara mengenai berita2 yang kita terima dan biasanya seputar teman yang sakit, teman yang baru sembuh, dan sekarang beberapa teman yang meninggal karena stroke, jantung, maupun kanker.

Jadi mikir, beda ya, undangan2 yang kita terima di tiap-tiap dekade dalam kehidupan. Coba pikir:

Pesta ulang tahun anak2, pasti ada tiup lilinnya. Ketika kita masih anak2 dan remaja, kita biasanya menerima undangan ulang tahun dari teman. Pembicaraan juga ngga jauh2 dari pelajaran, permainan, ulangan dan yang sejenisnya.

Sewaktu kecil, undangan pesta kalau tidak ke rumah dengan mengundang badut, ya di McDonald atau tempat2 fastfood lainnya dengan badut juga. Sementara di usia belasan, biasanya cuma dikasih duit sama orang tua terus terserah mau traktir teman2 ke mana.

Ketika kita mulai memasuki akhir usia belasan tahun, kita mulai sibuk dengan undangan dari universitas-universitas. Mungkin tidak literally mereka mengundang, apalagi yang sudah mapan dan ngetop, tetapi iklan di koran kan tetap saja bisa dihitung sebagai undangan massal, bukan?

Ketika kita memasuki usia 20-an, kita sibuk dengan kuliah. Tetapi kita juga mulai lulus kuliah, dan biasanya teman2 yang perempuan beberapa saat kemudian menyebarkan undangan kawin. Rasanya waktu saya di usia 20-an, hampir tiap weekend ada acara resepsi perkawinan. Soal kesehatan, jarang diomongin. Biasanya kuat pesta dari malam hingga pagi terus paginya langsung masuk kantor.

Ketika awal memasuki usia 30-an, kita masih banyak menerima undangan kawin, tetapi kali ini kebanyakan teman kita yang pria yang mulai mengikat janji setia dengan pasangannya yang berumur 20-an.

Di usia ini juga kita sering menerima undangan sunatan, atau mendengar kabar teman2 kita mulai mempunyai momongan. Atau mungkin saudara kita mulai menikah dan mempunyai momongan, sehingga kita mulai dipanggil tante atau om.

Memasuki usia 40-an, mulai badan terasa tidak terlalu fit seperti dulu. Kalau dulu kuat begadang, sekarang untuk recover dari pesta semalam rasanya butuh waktu 2 hari. Mulai deh, kita membandingan suplemen apa yang teman2 kita konsumsi.

Jenis “undangan” juga mulai berbeda. Biasanya undangan reuni, tetapi kegiatan juga mulai nambah dengan menjenguk teman yang sakit karena penyakit jantung, stroke maupun penyakit2 yang dulu rasanya jauh tetapi sekarang teman2 kita mulai mengidapnya. Sakit punggung soal yang biasa.

Di usia ini juga kita mulai dengar teman2 yang perkawinannya tidak mulus dan sampai cerai. Di usia 40-an ini, orang tua dari teman2 kita juga sudah pada mulai menghadap-Nya. Rasanya umur 40-an ini adalah titik tolak dimana kita mulai memikirkan hal2 yang lain selain hal2 yang duniawi. Titik spiritualitas manusialah.

Masuk umur 50, kita mulai menerima undangan ulang tahun setengah abad. Kemudian disusul dengan undangan kawin anak2 dari teman2 kita yang berumur 20-an. Mulai depresi juga ya, mendengan teman2 kita anak2nya sudah tamat kuliah, cari kerja, kawin, rasanya mulai terasa kalau memang umur sudah tidak muda lagi. Teman2 juga sudah mulai berguguran dan sebagian mulai keluar penyakit2nya, upah dari kebiasaan2 ketika masih muda dulu.

Masuk umur 60-an, saya musti ingat2 kehidupan orang tua saya ketika mereka di umur segini. Rasanya hampir tiap hari ada undangan kawin anak dari kenalan mereka. Selain itu, mereka mulai terdengar pergi melayat. Kadang kenalan dekat mereka, kadang tante atau om kita yang meninggal dunia.

Rasanya juga penyakit yang dulu rasanya jauh bener mulai mengintai diri masing-masing. Kalau di umur 40-an menelan suplemen, di umur 60 mulai membiasakan diri dengan memakan obat2an yang kalau tidak diminum fatal akibatnya. Kalau reunian dulu di tempat kawinan, sekarang kalau tidak di rumah sakit lagi antre obat, medical check up, atau ya, kawinan anak2 teman.


Masuk umur 70-an, rasanya jatah undangan kawin berkurang tetapi lebih sering melayat atau mengunjungi teman atau keluarga di rumah sakit. Kalaupun menerima undangan kawin, paling datang pas akad nikahnya saja, sedangkan resepsinya lewat, karena sudah tidak kuat begadang, atau menu makanan sudah khusus, atau tidak kuat duduk lama. Tante2 saya dan orang tua saya sudah dalam tahap umur segini. Bukan penyakit lagi yang mengintai tetapi maut.

Kalau saya pikir2, sekarang2 ini saya mulai banyak bicara dengan kawan mengenai teman2 yang sedang sakit, baru sakit. Kebanyakan sakit jantung dan stroke, atau masalah dengan cholesterol, tekanan darah, dan yang paling ringan, ketarik otot punggung (ini saya juga sering banget). Undangan kawin kawan sudah langka banget, berita teman cerai mulai terdengar, orang tua teman yang meninggal juga sering terdengan.

Kawan yang meninggal pun sudah ada satu dua. Senior2 saya sudah pada mulai ngawinin anaknya. Anak2 teman saya yang perempuan sudah SMA, bahkan sudah ada yang kuliah, membuat saya merasa semakin tua karena rasanya baru tahun lalu selesai sorak2an pakai jaket kuning Himpunan Mahasiswa Geologi ITB di Aula Barat.

Di kantor juga selisih umur dengan staf yang termuda sudah bilangan kepala dua. Rasanya sudah berumur banget dan juga rasanya kita sudah sampai titik tertentu di mana kita bisa bilang, “Saya sudah sampai di sini dan saya bangga”.

Tidak semua yang saya lalui itu menyenangkan. Ada beberapa tahap dimana saya bingung dengan langkah karir. Malah di umur 30-an saya sudah menyandang titel janda, yang merupakan titik melakukan “Plan B” setelah Plan A gagal total.

Tetapi saya hanya melihat ke belakang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mungkin di masa depan saya akan melakukan kesalahan yang lain, yang akan menjadi masa lalu di usia saya yang nanti lanjut. Namun saya berusaha tidak takut mengambil resiko karena hidup ini hanya sekali.

Paling tidak saya bisa mengatakan saya sudah melaluinya dan tiap2 umur yang saya lalui membuat siapa saya sekarang ini. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya tidak menyesali sedikitpun apapun yang saya lalui, paling tidak bukan suatu penyesalan yang berarti. Thanks to my parents yang senantiasa selalu membimbing saya sampai usia saya sekarang ini.

Nikmati hidup, lakukan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, jangan pernah menyesal.

Anda juga bisa menuliskan dan berbagi dengan seluruh sahabat pembaca "TJanda". Menulislah sekarang dan kirimkan melalui halaman Kontak.